Selasa, 16 Agustus 2016

Jalan-Jalan ke Taman Balai Kota Bandung (Bag 2-habis)



Bismillah, ini adalah tulisan lanjutan, bagi anda yang belum membaca tulisan sebelumnya, anda dapat mengklik disini.

Singkat cerita kamipun tiba di stasiun Bandung dengan selamat, dan kami memutuskan untuk berjalan kaki dari stasiun menuju Taman Balai Kota karena selain cuaca saat itu cukup sejuk, kami juga bisa melihat-lihat keadaan kota di penjang perjalanan, dan yang cukup penting, kami terbebas dari kemacetan yang saat itu saya lihat cukup lumayan karena memang saat itu adalah saat weekend dimana selain warga Bandung sendiri yang keluar rumah berkendaraan, banyak juga warga kota lain yang masuk ke Bandung untuk berlibur.

Namun setelah dipikir-pikir, jauh juga nih dari stasiun ke taman balai kota kalau untuk ukuran tempuh dengan berjalan kaki. Akhirnya saya putuskan untuk kami naik angkot sajalah, karena jalur dari stasiun ke taman kota saya lihat ternyata tidak terlalu macet seperti jalur yang lainnya.

Kurang dari sepuluh menit, kami sudah tiba di taman balai kota yang ternyata memang telah banyak berubah di beberapa bagian. Taman tampak cukup bersih, dengan suasana yang sejuk karena dinaungi oleh pohon-pohon besar yang bukan tidak mungkin beberapa diantaranya sudah berusia ratusan tahun. Aktifitas saat itu cukup ramai, walaupun tidak sampai ramai sekali. Banyak dari warga yang saya lihat sedang beraktifitas baik sendiri-sendiri maupun berkelompok. Ada yang sekedar duduk-duduk menikmati segarnya udara, ada yang mengobrol duduk di rumput di bawah pohon, ada pula yang berolahraga seperti jogging dan bulutangkis. Sementara mereka yang berkelompok terlihat sedang mendiskusikan sesuatu, ada juga kelompok yang saya lihat sedang melakukan semacam tarian, bahkan di salah satu sudut taman tampak sebuah kelompok pecinta hewan juga sedang berkumpul dengan membawa hewan peliharaannya masing-masing. Pendek kata, mereka semua kurang lebih sama seperti saya, berada menikmati taman balai kota untuk beraktifitas.

Sesampainya di sebuah pohon yang cukup rindang, kami putuskan untuk makan terlebih dahulu. Makanan telah disiapkan istri saya sejak awal, karena niat kami memang tidak ingin makan di rumah makan atau semacamnya untuk menghemat pengeluaran tentunya. Makan bersama di bawah pohon rindang selalu menjadi pengalaman yang mengasyikkan, karena suasananya jauh berbeda dengan suasana dimana kita biasa makan sehari-hari. Selesai makan, saya mengajak keluarga untuk berkeliling melihat-lihat suasana taman secara keseluruhan. Selain itu, saya penasaran dengana sungai dangkal yang pernah ditayangkan di televisi itu. Ternyata letaknya berada di salah satu sudut taman yang berbatasan dengan jalan merdeka. Saya lihat saat itu banyak anak-anak yang bermain dengan ayah ibunya di sungai super kecil itu, memain-mainkan arus air. Saya amati kondisi airnya, saya ragu, bersih engga ya? Kalau dari penglihatan, dibilang kotor sepertinya tidak, dibilang bersih juga saya tidak berani memastikan. Jadinya saya putuskan untuk tidak “menaruh” anak bungsu saya di sungai taman itu, dan kami hanya melewati saja mereka yang masih asyik bermain dengan air.

Perjalanan berkeliling taman pun berakhir di satu tempat dimana terpampang tulisan Taman Balai Kota. Melihat-lihat sekeliling, rasanya taman sudah kami jelajahi semua, kecuali beberapa gedung yang berada di dalam taman yang saya sendiri memang kurang tertarik untuk mengunjunginya. Akhirnya setelah puas menikmati keadaan taman, kami putuskan untuk meninggalkan taman itu dan menuju lokasi yang lain di Kota Bandung.

Kesimpulannya, dibilang ‘wah’ rasanya belum bisa, tapi kalau dibilang kurang bagus juga rasanya tidak adil. Yaa, kategorinya lumayan lah untuk ukuran sebuah taman gratisan, karena memang kita tidak dipungut biaya apa-apa untuk masuk ke dalamnya. Jadi rasanya tidak rugi juga bagi para pengunjung yang hanya ingin menikmati suasana taman. Lain halnya dengan mereka yang sedang mencari inspirasi di taman itu, atau mendiskusikan sesuatu, maka taman balai kota menjadi tempat sangat kondusif untuk itu. Oh iya hampir lupa, keunggulan lain dari taman itu adalah ketersediaan koneksi wifi gratis di area taman, sehingga sangat bermanfaat bagi mereka yang memerlukannya.

Kita berharap, semoga Bandung ke depan makin menjadi kota yang ramah bagi warganya, dan ramah bagi pengunjung dari luar kota. Bukan hanya penduduknya, tapi seluruh akses, fasilitas, penampakan, dan tentunya sarana transportasi untuk menuju dan keluar dari Kota Bandung, terimakasih untuk Bapak Ridwan Kamil, atas dedikasinya untuk menjadikan kota Bandung lebih bermanfaat..                                                                                                                                                                                         

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More